Stories

Prespektif Tiga Aspek Tipologi Pembelajaran Anak Didik Perlu Kolaborasi

Jawa Tengah, Indonesia Media Training, Research, Risk Analysis, Social, Breaking News 21 Oct 2023

Dalam Tipologi pembelajaran yang sesuai dapat membantu peserta didik untuk dapat lebih mengerti, memahami dan menyerap hasil belajar siswa, terbagi Tipologi tiga (3) hal (aspek), yakni:
1. Visual (penglihatan)
2. Auditori (pendengaran)
3. Kinestetik (gerak & praktek)

Dari hal tersebut, menurut diri Eliyati yang merupakan guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMPN 5 Ungaran Timur, Kab.Semarang mengatakan, bahwa tipologi belajar dalam perspektif ilmu sosial dari ke-3 aspek tipe tersebut bisa digunakan secara kolaboratif.

Dan peserta didik bisa diajak untuk mengamati, mendengar, kemudian menganalisis kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan sosial saat ini.

"Jadi dengan melihat, mendengar, dan mengamati kejadian-kejadian yang sedang terjadi saat ini. Hal itu akan lebih membantu siswa dalam belajar, dan sekaligus juga dalam praktek kehidupan sehari-hari. Sebab bagaimanapun, belajar tidak hanya melulu dengan teori-teori, namun lebih kepada belajar pada kehidupan nyata," terangnya.

Lalu dirinya menyampaikan, karena dalam ilmu sosial, teori bisa saja ketinggalan jaman, dan tidak selaras lagi dengan kehidupan sosial yang ada di masyarakat.

Dan kehidupan masyarakat itu sangat-sangat dinamis sehingga selalu mengalami perubahan. Oleh karena itu, siswa dalam belajar ilmu sosial dituntut untuk bisa menyelaraskan dan menyesuaikan dengan perubahan jaman.

Lantas, apa pembentukan kepribadian pada anak didik?
Ya, tentunya diharapkan rasa empati anak terhadap kehidupan sosial akan muncul dan terbentuk.

Selanjutnya Eliyati menjelaskan, meskipun nantinya dalam perkembangannya ada beberapa watak anak yang lebih dominan terbentuk, tetapi dengan rasa empati yang tinggi tidak akan muncul sifat sewenang-wenang terhadap temannya.

"Contohnya ada anak yang cenderung suka mengamati, berbicara, dan pingin selalu mengatur. Namun dengan dilandasi rasa empati akan timbul rasa welas asih atau peduli di antara sesama," ucapnya.

Sementara itu menurut dirinya selanjutnya, bahwa kepribadian anak bisa terbentuk selain dari faktor keturunan, juga faktor lingkungan sosial akan sangat berperan.

"Contohnya Sidarta Gautama atau yang dikenal sang Budha. Yang mana dia yg hidup dari lingkungan bangsawan dan hidup dalam lingkungan kerajaan yang serba mewah, namun setelah berhasil keluar, melihat dan mengamati kehidupan nyata di masyarakat, akhirnya beliau mengerti atas kehidupan yang nyata dan sebenarnya, yang akhirnya berhasil jadi panutan bagi masyarakat (umat) dunia," kata Eliyati mengakhiri.
(Doc.arsip by MTM/ WA interaktif/Lind_media,2106_211023

Log in